Budidaya dan Pasca Panen

Mayoritas petani di kecamatan long apari adalah kakao sebagai mata pencahariannya, tetapi mulai diawal tahun ini hingga sekarang hasil panen yang di dapat para petani sangatlah berkurang dikarenakan tingkat curah hujan yang tinggi dan cuacanya sudah sangat sulit diprediksikan.

Pada tanggal 29 – 31 agustus 2017 penabulu konsorsium mengadakan pelatihan budidaya dan pasca panen kakao yang di adakan di aula kecamatan long apari. Peserta dari pelatihan tersebut diwakili dari beberapa kelompok tani yang ada di 3 kampung yaitu kampung tiong ohang, long krioq, dan tiong bu’u. Di hari pertama pelatihan bapak setyo selaku narasumber menjelaskan bagaimana cara memetik kakao yang benar dan yang salah beserta dampak yang di dapat bila salah dalam melakukan pemetikan.

Selain cara memetik bapak setyo juga menjelaskan tentang fermentasi, sortasi, dan produk kakao yang layak dijual dengan kualitas terbaik. Di materi yang kedua bapak noor hasan yang sebagai pendamping kakao menjelaskan tentang begaimana cara proses fermentasi dan pengeringan kakao. Dalam fermentasi dan pengeringan ini merupakan point yang harus diperhatikan karena dalam fermentasi dan pengeringan ini adalah dimana proses untuk mengurangi kadar air yang ada di kakao hingga 7 – 8%.

Banyak peserta yang tidak melakukan proses fermentasi tersebut, dikarenakan kurang mengertinya begaimana cara fermentasi tersebut. Bapak hasan juga menjelaskan tentang dampak bila melakukan pemaksaan dalam pengeringan, alat – alat apa saja yang digunakan untuk fermentasi, dan begaimana cara penyimpanan yang baik dan benar.

Pada pelatihan hari ke – 2 bapak Hasan mempraktekan tehnik sortasi dan begaimana caranya para petani bisa bersatu untuk melakukan negosiasi kepada pengepul. Dalam sortasi ini para pentani di praktekan begaimana caranya memilih kakao yg baik dan yang sudah jamuran, untuk mendapatkan kualitas yg baik ada beberapa acuan dan perhitungan yang menjadi standard nasional kakao seperti kualitas ‘AA’ dalam berat 100 gram maksimal memili biji sebanyak 85 buah sedangkan kualitas ‘A’ dalam berat 100 gram kisaran 86 – 100 biji kakao.

Bapak setiyo menjelaskan tentang pengalamnya menanam kakao di jawa, untuk dilokasi jawa untuk mendapatkan kualitas ‘B’ itu sudah sangat sulit walaupun Kita sudah menjalankan tahap – tahap yang menjadi standard dalam budidaya dan pasca panen kakao.

Dihari ke – 3 pelatihan ada beberapa tambahan peserta baru yang hadir yaitu para siswa dan siswi sma 1 long apari beserta gurunya ikut hadir, dalam pelatihan terakhir ini peserta sangat bersemangat untuk mempelajari begaimana caranya biji kakao dijadikan minuman yang sangat enak. Karena rata – rata para petani pada belum paham begaimana caranya mengelolanya, mereka lebih sering langsung menjualnya kepengepulnya dalam bentuk biji kering dan mereka belum pernah merasakan rasa minuman coklat dari biji kakao hasil panen mereka. (KWL)