Pekan Raya Nusantara; dari Ulu Mahakam untuk Indonesia

Pekan Raya Nusantara yang diselenggarakan pada tanggal 13-15 Oktober 2017 yang bertempat di Taman Menteng Jakarta Pusat merupakan langkah awal bagi masyarakat Mahakam Ulu untuk menunjukkan produk unggulan wilayah perbatasan Indonesia-Malayasia ke khalayak ramai.

Beragam produk mulai dari anyaman rotan, manik dan batik dengan pewarna alam di “boyong” dari wilayah ini menuju Ibu Kota Indonesia yaitu Jakarta. Untuk membawa produk-produk ini kami harus melalui 2 riam Sungai Mahakam yaitu riam panjang dan riam udang. Bukan hanya itu, jarak tempuh untuk sampai ke Jakarta membutuhkan waktu 24 jam, mulai dari perjalanan sungai 10 jam dari Makaham Ulu sampai Kutai Barat, kemudian 10 jam perjalan darat menuju Balikpapan dan 4 Jam perjalanan dari Bandara Balikpapan sampai ke lokasi Pameran. Tetapi hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk menampilkan produk-produk kami.

Pada saat pembukaan pameran, semua stand sudah terisi produk-produk unggulan dari seluruh wilayah bagian Indonesia. Banyak produk serupa yang ada di pameran ini, tetapi kami punya nilai ke-Khasan tersendiri yang bisa kami ceritakan dan kami sampaikan dalam pameran tersebut kepada para pengunjung.

Nilai ke-khasan yang kami tonjolkan dalam produk-produk kami; pertama, jenis rotan yang ada di wilayah kami merupakan rotan unggulan yang tumbuh secara alami di wilayah Jantung Borneo. Kedua, motif yang kami miliki juga sangat melekat erat dengan budaya dan alam di sekitar kami. Ketiga, pewarna rotan yang kami gunakan juga menggunakan pewarna alam yang kami ambil dari hutan dan kebun-kebun kami. Keempat, tingkat kerapatan anyaman dari produk kami memiliki tingkat kesulitan tersendiri. 4 hal ini lah yang menjadi keunggulan dari produk kami.

***

Setelah me-layout sedemikan rupa stand kami agar menarik perhatian para pengunjung. Pastinya banyak acara menghiasi keramaian festival ini yang bisa kami tonton. Untuk sekedar opening, perfomance musik nusantara dari berbagai macam kelompok di berbagai daerah membuat kami semakin tertarik tentang keragaman negri ini. Wajar kami di pelosok, jarang melihat kemewahan atas keragaman ini.

7 malam, pembukaan secara resmi PARARA Festival disambut dengan tarian-tarian menarik, terutama tarian daerah biak, papua yang saat itu membuat kami semakin takjub.  Setelah itu sambutan dari Ketua Konsorsium dan dilanjutkan dengan pembukaan oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif.

Pada hari kedua, Sabtu, 14 oktober 2017 suasana di tempat kegiatan pameran kembali ramai pengunjung. suasana di Taman Menteng menjadi padat.

jam 7 pagi, kami mengikuti serangkaian acara Yoga Gembira “growing together” setelah itu jamuan  Parara: sarapan pagi bersama.

Setelah itu, di temani oleh tenaga ahli SGIP Penabulu Konsorsium, Theresia Eko dan kawannya Mujiati kami mengikuti acara talkshow tematik, dengan tema alternatif pembangunan berbasis sumberdaya lokal. Narasumbernya adalah Mujiati, ia menyampaikan soal sistem pengorganisasian lalu penguatan terhadap organisasi sehingga dapat mencapai suatu target yang menjadi fokus utama oleh kelompok maupun individu. Setelah talkshow tersebut  kami kembali dikeramaian booth kami bersama kawan lainnya.

Keesokan harinya 15 Oktober 2017 Kami kembali mengikuti Talkshow Tematik bertemakan Kewirausahaan, Pasar Budaya dan Kebijakan Produk Lokal. Pada acara ini juga banyak dihadiri oleh berbagai narasumber. Point -point penting yang kami dapat ambil adalah soal jaringan pemasaran produk (Networking), lalu mendapat wawasan terkait langkah-langkah mem-branding-kan produk lokal sehingga terlihat menarik, mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kelangsungan proses pembuatan produk lokal.

Setelah selesai Talkshow tersebut, kami diminta kontak dari Bapak Deputi IV Kemenko Perekonomian RI: Bapak DR. Ir. Mohammad Rudy Salahuddin, MEM, lalu Kadin Indonesia: Bapak Kevin Wn, dan Bapak Fahmi dari Universitas Tri Sakti,

Selama 3 hari pameran, kami membuat pengamatan tersendiri terhadap pengunjung pameran di PARARA 2017 ini.

  • Masyarakat dari berbagai daerah, dari ibu kota maupun dari luar kota sangat antusias menunjungi booth pameran karena tertarik dengan berbagai motif dan jenis yang dipajang di booth penabulu.
  • Dan juga Membeli gelang rotan khas daerah kalimantan dan masih banyak lagi yang dibeli oleh para pengunjung.
  • Daya beli konsumen di booth penabulu lebih besar dikarnakan produk yang menjadi minat mereka.
  • Konsumen menjadi tertarik dengan produk yang Penabulu pamerkan karena kualitas nya bagus dan unik (banyak macam jenis dan motifnya).

Sekian cerita dan pengalaman yang kami dapat pada pelaksanaan kegiatan PARARA 2017 di Taman Menteng, sekiranya bisa menjadikan ini sebagai motivasi untuk kami kedepan untuk lebih tulen mendampingi kelompok dan memajukan masyarakat dari segi perekonomian melalui kegiatan berwirausaha untuk mensejahterahkan masyarakat dan juga mendorong masyarakat agar tidak meninggalkan kegiatan yang sudah turun temurun di daerah tersebut (mengembangkan potensi Lokal).