Mahakam Ulu adalah kabupaten baru hasil dari pemekaran wilayah Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2013. Kabupaten ini memiliki luas 15.315 Km2 dan penduduk mencapai 45.057 jiwa yang tersebar di lima kecamatan dan lima puluh desa. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Malinau dan Negara Serawak (Malaysia Timur) di sebelah Utara, Kabupaten Kutai Kertanegara di sebelah Timur, Kabupaten Kutai Barat dan Provinsi Kalimantan Tengah di sebelah Selatan dan Provinsi Kalimantan Tengah serta Kalimantan Barat di sebelah Barat.

Kondisi geografis Mahakam Ulu didominasi oleh hamparan hutan hujan tropis.  Luas hutannya mencapai  2.413.322 Ha atau sekitar 72% dari keseluruhan luas Kabupaten Mahakam Ulu. Kabupaten Mahakam Ulu merupakan kawasan Hulu dari Sungai Mahakam, sungai dengan panjang  920 KM dan terpanjang di Provinsi Kalimantan Timur. Sungai ini melintasi wilayah Kabupaten Mahakam Ulu, Kabupaten Kutai Barat, dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Samarinda dan bermuara di Selat Makassar. Sungai Mahakam merupakan sumber penghidupan bagi penduduk—terutama nelayan dan petani—sebagai sumber air, dan prasarana transportasi.

Sebagai kabupaten baru, Mahakam Ulu belum mempunyai sarana dan prasarana publik yang baik. Menurut Kalimatan Timur dalam Angka 2014, jumlah pegawai negeri sipil di kabupaten ini hanya 742 orang—paling sedikit di Kalimantan Timur. Hal tersebut diperparah dengan sulitnya akses yang menghubungkan daerah-daerah di Mahakam Ulu. Akses utama hanya mengandalkan transportasi air dengan biaya yang sangat mahal.

Situasi yang paling pelik terjadi di Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai yang merupakan bagian ujung dari Mahakam Ulu. Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai berada di ketinggian lebih dari 1.200 mdpl dengan mayoritas kontur permukaan tanah berbukit atau bergelombang dengan kemiringan 0-60%. Di dua kecamatan tersebut belum didukung dengan infrastruktur jalan yang memadai serta keterbatasan sumber elektrifikasi yang disediakan oleh PLN. Hal tersebut mengakibatkan tingginya pengeluaran masyarakat untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti elektrifikasi dan transportasi.

Padahal, mayoritas penduduk di kedua kecamatan tersebut menggantungkan hidupnya dari bertani ladang dan mengandalkan hasil hutan bukan kayu sebagai mata pencaharian utama. Semakin tingginya pengeluaran keluarga, memaksa masyarakat melakukan perambahan hutan (illegal logging), dan melakukan pendulangan emas ilegal di wilayah hulu sungai Mahakam. Hal tersebut dilakukan karena potensi pertanian dan lading belum dikelola secara maksimal.

Dengan situasi tersebut, Kabupaten Mahakam Ulu, khususnya Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai mempunyai tantangan besar dalam mengelola sumber daya alamnya secara berkelanjutan. Ancaman terdekat adalah pembukaan lahan berhutan di kawasan hulu sungai untuk keperluan tambang, perkebunan sawit dan perambahan hutan serta konversi lahan bagi praktik-praktik pertanian yang tidak berkelanjutan. Hal tersebut nantinya akan menyebabkan hilangnya jasa lingkungan dan rusaknya ekosistem DAS dan hutan dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut yang menjadi latar proyek ini bekerja. Melakukan upaya pelestarian kawasan hutan konservasi untuk daerah tangkapan air sekaligus memanfaatkan jasa lingkungan untuk sumber energy listrik bagi masyarakat. Proyek ini mempromosikan prakarsa pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan berbasis masyarakat untuk mengurangi kemiskinan dan gas rumah kaca.